Minggu, 31 Maret 2013

Kebakaran di Samarinda Selama Maret 2013

Berikut ini adalah deretan peristiwa kebakaran yang menimpa Kota Samarinda selama bulan Maret 2013.

9/3
Ruko di Jl. dr. Soetomo RT 25 Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, hangus terbakar sekitar pukul 22.00 WITA.

22/3
Mess UPTD Pengawasan Benih Dinas Perkebunan Kaltim di Jl. Slamet Riyadi gang VI/2 kelurahan Karang Asam Ilir hangus terbakar sekitar pukul 16.15 WITA.

26/3
Bangsal dua lantai di Jl. Usman Brahim Gang 9 RT 12, Kelurahan Pelita, Samarinda Ilir, sekitar pukul 14.30 WITA nyaris ludes. Hanya dapur yang terbakar.

30/3
Api melalap gudang plastik di Jl. Pelita, Kompleks V RT 41 sekitar pukul 19.30 WITA.


Kamis, 28 Februari 2013

Kebakaran di Samarinda Selama Februari 2013

Berikut ini adalah deretan peristiwa kebakaran yang menimpa Kota Samarinda selama bulan Februari 2013.

21/2
Delapan bangunan hangus di Jl. Arif Rahman Hakim (ARH) RT 27, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota, sekitar pukul 10.00 WITA. 13 Kepala Keluarga kehilangan tempat tinggal.

27/2
Satu rumah hangus di Jl. KH Ahmad Dahlan, RT 11, Kelurahan Sungai Pinang Luar (SPL), Samarinda Kota.

27/2
Delapan bangunan di Jl. Durian, Kelurahan Bukuan, Palaran, hangus.

Selasa, 19 Februari 2013

Sepeda Motor vs Truk Tronton, Kepala Terbelah

Peristiwa kecelakaan kembali terjadi di Kota Tepian. Kali ini melibatkan sepeda motor yang diboncengi oleh dua pengendara yang tidak diketahui identitasnya dengan sebuah truk tronton di depan kantor sebuah perusahaan logistik di Jl. Cipto Mangunkusumo, Harapan Baru, Loa Janan Ilir pada Selasa (19/2) malam sekitar pukul 20.00 WITA. Satu pengendara motor yang diketahui berjenis kelamin laki-laki tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan dengan kepala nyaris terbelah. Otomatis, insiden ini menjadi perhatian warga setempat dan sempat memacetkan arus lalu lintas.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari saksi mata yang tidak disebutkan namanya, sepeda motor tersebut hendak menyalip truk tronton yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Naasnya, ia tidak bisa menyalip dan akhirnya berbenturan dengan truk dan sang pengendara motor di depan langsung terlindas. Sedangkan seseorang yang diketahui wanita di belakang pengendara luput dari lindasan truk karena sempat terseret jauh.

Korban tewas sempat dipinggirkan dan ditutupi sarung. Tak lama kemudian pihak kepolisian datang dan meminta warga untuk membawa ke rumah sakit. Kasus ini masih diselidiki oleh Polsek Samarinda Seberang. (fpks)

Kamis, 31 Januari 2013

Kebakaran di Samarinda Selama Januari 2013

Berikut ini adalah deretan peristiwa kebakaran yang menimpa Kota Samarinda selama bulan Januari 2013.

2/1
21 rumah luluh lantak jadi arang di Jl. Dr. Soetomo Gang 2 RT 30 Kel. Sidodadi Kec. Samarinda Ulu sekitar pukul 04.15 Wita.

4/1
Sebuah rumah di Jalan Untung Suropati, Kompleks Griya Tepian Lestari, Blok UU-11 RT 20 Kel. Karang Asam Ulu hangus terbakar sekitar pukul 10.45 WITA.

6/1
Sebuah rumah di Jl. Jakarta Blok BG No. 23 Kel. Loa Bakung Kec. Sungai Kunjang hangus terbakar sekitar pukul 10.00 WITA.

Minggu, 20 Januari 2013

Etnis Pembentuk Heterogenitas Demografi Samarinda: Bugis

Boleh dikatakan, kedatangan suku Bugis menjadi titik awal berdirinya Kota Samarinda karena pemukiman pertama di Samarinda yang dibuka secara komersial berada di Samarinda Seberang, tepatnya di kelurahan Baqa dan Mesjid saat ini.

Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Di wilayah tersebut belum ada sebuah desa pun berdiri, apalagi kota. Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.

Pada tahun 1668, rombongan orang-orang Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado) hijrah dari tanah Kesultanan Gowa ke Kesultanan Kutai. Mereka hijrah ke luar pulau hingga ke Kesultanan Kutai karena mereka tidak mau tunduk dan patuh terhadap Perjanjian Bongaya setelah Kesultanan Gowa kalah akibat diserang oleh pasukan Belanda. Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha pertanian, perikanan dan perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh. Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Etnis Pembentuk Heterogenitas Demografi Samarinda: Jawa

Suku Jawa sudah mulai bermukim di wilayah Samarinda sejak tahun 1910-an karena dibawa oleh penjajah Belanda untuk dijadikan pekerja pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan oleh Belanda. Pada tahun 1917, diadakan musyawarah antara Masbe Mangun Wirono selaku sesepuh dan pendiri, dengan pihak kontroler Hindia Belanda, membicarakan seputar masalah keadaan cadangan pertanian. Musyawarah dimaksudkan untuk membuka ladang pertanian yang dikhususkan bagi suku Jawa. Oleh Belanda saat itu, akhirnya disepakati, sehingga menyebarlah sejumlah penduduk dengan mayoritas dari suku Jawa, dan sebagian kecil suku Bugis, di daerah yang kemudian disebut Kampung Jawa.

Sejak berdirinya, perkampungan Jawa berada di bawah kuasa wilayah kepala kampung Teluk Lerong, maka para pemuda dan masyarakat Kampung Jawa mengadakan musyawarah dengan tujuan akan memohon kepada kontroler Hindia Belanda, agar perkampungan Jawa dapat berdiri sendiri, dan memiliki kepala kampung sendiri. Pada tahun itu pula disetujui oleh kontroler Hindia Belanda. Maka diadakan pemilihan kepala kampung, dan terpilih Naiman sebagai Kepala Kampung Jawa pertama.

Etnis Pembentuk Heterogenitas Demografi Samarinda: Banjar

Warga etnis Banjar di Rapak Dalam sedang berkumpul
dalam suatu acara. (fpks)
Urang Banjar, begitulah sapaan yang biasa ditujukan kepada Suku Banjar. Urang Banjar menjadi etnis pembentuk heterogenitas demografi Samarinda sejak awal abad ke-20. Kedatangan awal Urang Banjar ke Samarinda berawal dari dikuasainya Tanah Banjar oleh Penjajah Belanda sejak tahun 1860 ketika Kesultanan Banjar dihapuskan. Karena sebagian Urang Banjar tidak ingin tunduk pada aturan Belanda yang menjajah tanah mereka, akhirnya mereka lebih memilih untuk bermigrasi. Tujuan mereka bermigrasi antara lain ke Sumatera, Jawa, Malaysia, termasuk ke Kalimantan Timur yang saat itu berada dalam wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dan kesultanan lainnya. Pemukiman Urang Banjar pertama di Samarinda yang diketahui adalah di kawasan Rapak Dalam dan Sungai Keledang dan mayoritas berasal dari kawasan Hulu Sungai.

Budaya Banjar di Samarinda sangat melekat kuat sehingga menciptakan istilah "Banjar Samarinda" dalam hal kesukuan mau pun bahasa. Khusus untuk bahasa, Bahasa Banjar Samarinda digunakan lazim baik oleh Urang Banjar mau pun non-Banjar sebagai bahasa pergaulan. Bahasa Banjar Samarinda kini sudah dituliskan dalam artikel humor terbitan Samarinda Pos bertajuk "Bujur-Bujur" yang selalu mengisi halaman depan dan sambungan setiap harinya.
Selamat datang di blog Forum Peduli Kota Samarinda! (FPKS) Kirimkan pertanyaan dan saran Anda di pedulikotasamarinda@gmail.com (FPKS) Sesosok mayat mengambang di tepi Sungai Karang Mumus Jl. AM Sangaji Gang 9 pada Minggu (27/3) pagi (FPKS) 27 rumah hangus terbakar di Jl. Cipto Mangunkusumo RT 12 Kel. Harapan Baru, Loa Janan Ilir (27/3) pada pukul 02.00 WITA (FPKS) Angin kencang memporak-porandakan Samarinda pada Sabtu (26/3) siang